INSYA ALLAH ADA JALAN

Senin, 01 Desember 2014
Insya Allah ada jalan…
Jika kita tidak mampu beramal dari pintu bersedekah karena kurangnya harta, maka carilah pintu lain yang dapat menambah keutamaan dan amalan kita.
Jika kita tidak mampu banyak berpuasa karena tubuh yang lemah, maka carilah pintu2 yang lain.
Jika kita tidak mampu berbakti kepada orangtua karena mereka sudah tiada, maka cari juga pintu yang lain.
Jika kita mampu berjihad karena faktor kondisi, maka carilah pintu2 yang lain.
Jika kita tidak mampu menuntut ilmu di pesantren atau ma’had, maka carilah pintu2 yang lain yang pintu2 itu dapat menjadikan kita memiliki keutamaan dan kelebihan dibanding mereka yang mampu.

Seperti halnya Uwais al Qarniy, yang mana beliau tidak mampu untuk bertemu dengan Rasulullah, tidak mampu duduk di majelisnya Rasulullah dan menuntut ilmu langsung kepada Rasulullah, namun beliau bisa memiliki keutamaan dan kelebihan seperti halnya para shahabat Nabi yang selalu bertemu langsung dengan Rasulullah, duduk di majelisnya Rasulullah, dll, bahkan Rasulullah menyuruh Umar dan Ali untuk minta di doakan oleh Uwais. Dari mana Uwais bisa mendapatkan keutamaan seperti itu? Yaitu dari pintu Birrul Walidain (Berbakti kepada ibunya).

Maka itu, jangan kita pesimis dalam beramal… Insya Allah ada jalan…

Al Hafizh Ibnu Abdill Barr menyatakan dalam at Tamhid, “Inilah yang kutulis berdasarkan hafalanku sementara catatan aslinya hilang dariku, ‘Abdullah al Umari, seorang ahli ibadah, pernah menulis surat kepada Imam malik yang menganjurkan beliau agar menyepi dan beribadah. Maka Imam Malik membalas suratnya, “Sesungguhnya Allah membagi amal perbuatan sebagaimana Allah membagi-bagi rezeki. Terkadang seorang dibuka pintu hatinya untuk banyak shalat, namun tidak dibukakan pintu hatinya untuk shaum. Yang lainnya dibukakan pintu hatinya untuk banyak bersedekah, namun tidak dibukakan pintu hatinya untuk banyak shaum. Ada juga orang yang dibukakan pintu hatinya untuk berjihad. Sementara menyebarkan ilmu adalah amal kebajikan yang paling utama, dan aku sudah merasa senang dengan dibukakannya pintu hatiku dalam hal itu. Saya tidak menganggap kebiasaan ini lebih rendah derajatnya daripada kebiasaanmu. Dan saya berharap agar masing-masing kita selalu berada dalam kebaikan.”
(Siyar A`lamin Nubala` : VIII/116, oleh Imam Adz Dzahabi).

Dalam Shahih al Bukhari, dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ

Tidak ada penyakit yang menular sendiri, dan tidak ada kesialan. Optimisme (yaitu) kata-kata yang baik membuatku kagum.[HR al Bukhari (10/181) dan Muslim (2224)]

Al Hulaimi rahimahullah mengatakan: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam suka dengan optimisme, karena pesimis merupakan cermin persangkaan buruk kepada Allah Azza wa Jalla tanpa alasan yang jelas. Optimisme diperintahkan dan merupakan wujud persangkaan yang baik. Seorang mukmin diperintahkan untuk berprasangka baik kepada Allah dalam setiap kondisi”. [Fathu al Bari (10/226).]  · 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar