AKHLAQ RASULULLAH TERHADAP ORANG AWWAM

Senin, 10 November 2014
 Sudah kita ketahui bahwa termasuk adab terhadap Rasulullah adalah tidak meninggikan suara kita melebihi dari suara Nabi. Bahkan meninggikan suara kita melebihi dari suara Nabi merupakan keharaman dan dapat memusnahkan amalan2 kita. Namun apa yang diperbuat oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tatkala beliau menghadapi seseorang …yang memanggil beliau atau bersuara dengan suara yang keras/tinggi?
Maka beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab panggilan itu dengan suara yang lebih tinggi/keras lagi dari suara orang tersebut. Salah satu hikmahnya adalah, agar orang tersebut tidak terkena dosa akibat perbuatannya itu….Subhanallah…

Dari Zirr bin Hubaisy, ia berkata: “Saya datang kepada Shafwan bin `Assal radhiyallahu anhu untuk menanyakan tentang mengusap kedua sepatu, kemudian dia bertanya: “Ada apa kamu datang ke sini wahai Zirr?” Saya menjawab: “Untuk mencari ilmu”. la berkata: “Sesungguhnya malaikat membentangkan sayapnya bagi orang yang mencari ilmu karena senang terhadap apa yang dicarinya”. Saya berkata: “Bahwasanya saya masih belum jelas betul tentang cara mengusap kedua sepatu sesudah BAB dan kencing sedangkan engkau adalah salah seorang di antara sahabat-sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam maka saya datang ke sini untuk menanyakan kepadamu, apakah engkau pernah mendengar beliau menjelaskan masalah itu?” la menjawab: “Betul, beliau menyuruh kami bila dalam perjalanan atau dalam bepergian supaya tidak melepas sepatu selama tiga hari tiga malam kecuali karena janabah; tetapi kalau hanya BAB, kencing atau tidur tidak perlu dilepas”.

Saya bertanya lagi: “Apakah engkau pernah mendengar beliau menceritakan tentang cinta?” la menjawab: “Betul, kami pernah bersama-sama dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu perjalanan kemudian tiba-tiba ada seorang Badui memanggil dengan suara keras: “Wahai Muhammad”, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawabnya dengan suara keras juga menyerupai suaranya: “Haum”. Maka saya berkata kepada orang Badui itu: “Coba rendahkanlah suaramu karena engkau berhadapan dengan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan engkau benar-benar dilarang berkata seperti itu”. Orang Badui itu berkata: “Demi Allah, saya tidak bisa merendahkan suara”. Dan orang Badui itu berkata lagi: “Bagaimana seseorang mencinta sekelompok orang, tetapi ia tidak boleh berkumpul bersamanya?” Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam lantas bersabda: “Seseorang itu akan bersama-sama orang yang dicintainya nanti pada hari kiamat”.

Beliau selalu bercerita kepada kami sampai akhirnya beliau menceritakan tentang sebuah pintu yang berada di sebelah barat di mana pintu itu sangat lebar sekali atau seandainya seseorang akan berjalan pada pintu itu maka ia akan berjalan selama 40 atau 70 tahun lamanya”. Sufyan, salah seorang perawi dari daerah Syria mengatakan bahwa Allah Ta’ala menciptakan pintu itu bersamaan dengan la menciptakan langit dan bumi; pintu itu senantiasa terbuka untuk menerima taubat, tidak akan ditutup sebelum matahari terbit dari arah barat (sebelum hari kiamat)”. (Riwayat At Turmudzy dan yang lain la mengatakan: Hadits Hasan Shahih).

Maka, apakah dengan sikap kita terhadap orang awam akan malah membuat orang awam itu semakin menambah dosa-dosanya, bahkan lari dari kita?…

Adalah Tsabit bin Qais, ia adalah juru bicara Rasulullah dan juru bicara Islam. Kalimat dan kata-kata yang keluar dari mulutnya kuat, padat, keras, tegas dan mempesonakan.

Sewaktu turun ayat mulia: “Sesungguhnya Allah tidak suka pada setiap orang yang congkak dan sombong.” (QS Luqman [31]:18),

Tsabit menutup pintu rumahnya dan duduk menangis. Lama dia terperanjak begitu saja, sehingga sampai beritanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam yang segera memanggilnya dan menanyainya. Maka kata Tsabit, “Ya Rasulallah, aku senang kepada pakaian yang indah, dan kasut yang bagus, dan sungguh aku takut dengan ini akan menjadi orang yang congkak dan sombong!” Bicaranya itu dijawab oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam sambil tertawa senang, “Engkau tidaklah termasuk dalam golongan mereka itu, bahkan engkau hidup dengan kebaikan, dan mati dengan kebaikan, dan engkau akan masuk surga!”

Dan sewaktu turun firman Allah Ta’ala: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian angkat suara melebihi suara Nabi, dan jangan kalian berkata kepada Nabi dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebahagian kalian terhadap sebahagian yang lainnya, karena dengan demikian amalan kalian akan gugur, sedang kalian tidak menyadarinya!” (QS Al-Hujurat: 2),

Tsabit menutup pintu rumahnya lagi, lalu menangis. Rasul mencarinya dan menanyakan tentang dirinya, kemudian mengirimkan seseorang untuk memanggilnya. Dan Tsabit pun datanglah.

Rasulullah menanyainya mengapa tidak kelihatan muncul, yang dijawabnya, “Sesungguhnya aku ini seorang manusia yang keras suaranya, dan sesungguhnya aku pernah meninggikan suaraku dari suaramu wahai Rasulullah! Karena itu tentulah amalanku menjadi gugur dan aku termasuk penduduk neraka!”

Rasulullah pun menjawabnya, “Engkau tidaklah termasuk salah seorang di antara mereka bahkan engkau hidup terpuji, dan nanti akan berperang sampai syahid, hingga Allah bakal memasukkanmu ke dalam surga!”  · 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar