TETANGGANYA KESURUPAN

Senin, 17 November 2014
Seorang ikhwan bercerita,
Ada seorang ibu rumah tangga yang mengalami gangguan dari jin. Dalam sehari ibu itu kesurupan 2 sampai 3x, bahkan kadang2 lebih dari itu. Keluarganya merasa sangat sedih, karena jika sedang kesurupan maka ibu itu berubah raut wajahnya menjadi menyeramkan dan mengamuk2, sehingga tubuhnya dipegang dan ditahan oleh beberapa orang laki2. Kejadian tersebut berlangsung lama sa…mpai berbulan2. Sudah banyak orang yang mengobatinya namun tidak kunjung sembuh, dimulai dari tetangga sekitarnya, ustadz panggilan, orang pintar atau dukun, sampai habib, tapi tetap tidak sembuh jua. Ketika mereka mengobati atau meruqyahnya maka ibu itu sembuh seketika dari kesurupannya, namun malamnya atau esoknya kambuh kembali. Dan sudah banyak pula biaya yang dikeluarkan keluarganya untuk kesembuhan ibunya.

Setelah beberapa bulan berlangsung, ibu tersebut masih juga kesurupan. Suatu hari, kesurupan ibu itu kambuh. Sayangnya, pada saat itu tidak ada yang mampu menolongnya karena di rumahnya hanya ada anak2nya yang perempuan beserta kawan2nya. Dikarenakan saat itu tidak ada yang mampu menolongnya, akhirnya tetangga sebelah rumahnya berinisiatif untuk mencoba menolongnya. Maka dengan keikhlasan tetangganya yang merupakan seorang wanita yang insya Allah sudah berjalan diatas aqidah Salaf, dia mencoba untuk meruqyahnya.

Namun selang beberapa lama wanita itu meruqyah, ibu itu tidak sadar juga dan masih tetap dalam kesurupannya. Setelah wanita itu merasa tidak mampu untuk mengobati ibu itu, akhirnya wanita itu pulang ke rumahnya dan memanggil suaminya meminta untuk mengobati ibu itu. Suaminya juga insya Allah termasuk dari orang2 yang sudah mengenal aqidah Salaf dan berpegang teguh kepadanya. Maka suaminya mendatangi rumah ibu itu yang bertepatan dengan sebelah rumahnya. Suasana di rumah tersebut agak menyeramkan. Ibu itu memasang raut wajah yang seram, tubuhnya dipegang oleh 2 orang laki2 dan sekali2 mencoba memberontak, adapun anak2 dari ibu itu terlihat ketakutan sambil menangis. Maka suami dari wanita itu langsung mengumandangkan adzan ke ibu itu. Setelah mengumandangkan adzan, lalu suami itu mengusir jin yang mengganggu dalam tubuh ibu itu, dan Alhamdulillah seketika jin itupun keluar dan ibu itu akhirnya bisa tersadar kembali. Setelah ibu itu sadar, suami dari wanita itu berpesan ke keluarga ibu itu agar selalu membacakan surat al baqarah di rumah, dan tidak memajang foto2 atau gambar2 makhluk hidup di rumah, adapun yang sudah dipajang maka hendaknya diturunkan dan disimpan, dan perbanyak rasa takwa kepada Allah, bentengi dengan dzikir2 seperti dzikir pagi petang, sebelum tidur dan sesudah shalat. Setelah itu suami dari wanita itu pulang kembali ke rumahnya.

Sejak kejadian itu, Alhamdulillah ibu itu tidak pernah kesurupan kembali sampai sekarang walaupun telah beberapa tahun.

Kejadian tersebut menjadi pelajaran bagi kita, bahwa aqidah dan tauhid yang kuat dapat menyelamatkan kita di dunia maupun di akhirat, juga menyelamatkan kita dari gangguan2 jin atau makhluk halus, yang mana mereka (golongan jin) akan merasa takut dan terkalahkan oleh orang2 yang memiliki aqidah dan tauhid yang kuat.

Ditanya kepada suami dari wanita itu, kenapa anda tidak meruqyah ibu itu sejak awal? Agar ibu itu bisa langsung sembuh. Padahal anda telah memiliki aqidah atau tauhid yang kuat insya Allah. Apalagi anda adalah tetangga terdekat.

Dijawab, apakah jika saya meruqyah ibu itu sejak awal dipastikan bisa langsung sembuh??
Ketika saya meruqyah ibu itu terakhir kalinya, saya tidak menyangka sama sekali kalau ibu itu akan sembuh karena sebab ruqyah saya. Karena saya meruqyahnya hanya coba2 saja dan waktu itu sedang dibutuhkan. Kesembuhan ibu itu adalah karena karunia dari Allah semata, bukan karena sebab saya, wallahu alam. Lagipula kami adalah orang yang biasa2 saja di mata mereka dan memang seperti inilah kami, mereka lebih membutuhkan dan percaya kepada orang2 pintar semisal dukun, ustadz2, kyai atau habib, daripada percaya kepada kami. Sehingga kami tidak berani tampil pede ke mereka dan menganggap diri kami hebat atau ujub.
Wallahu a’lam.  · 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar